Aku sudah terlalu tua untuk mengingat. Jangan paksa aku untuk mengulang hal itu lagi ! Dia suamiku, aku menyayanginya. Sangat menyayanginya, aku merindukannya tapi aku tak mau menangisinya.
Sudah cukup kau membuatku tertekan, tak pernah aku menginginkan masa lalu itu kembali menghantuiku. Aku bukan lagi orang yang tegar, aku hanya sedang menunggu malaikat menjemputku di kursi rapuh ini. Aku mohon, jangan paksa aku.”
“Aku hanya ingin tahu di mana ibu sembunyikan ayah selama ini, aku anakmu ibu. Aku ingin tahu siapa ayahku dan di mana ia berada, aku ingin melihatnya.
Kalau ibu tidak bias menunjukkan, ceritakanlah ibu. Aku mohon.”
(Bangun dari kursi menuju kamar), “Ayahmu dibawa malaikat.”
Jawaban yang sangat mencengangkan bagi Adinda yang berumur 39 tahun, seorang anak bungsu
dari tiga bersaudara Ibu Widuri yang berumur 56 tahun. Sejak kecil Adinda tidak pernah pernah melihat sosok ayah di rumah megahnya. Yang dia tahu hanya ibu dan beberapa pekerja di rumahnya, termasuk Bi Isna salah satu pekerja yang merawatnya sejak kecil layaknya seorang ibu.
Pernah sekali Adinda bertanya pada Bi Isna tentang ayahnya tapi nihil, seperti bertanya pada ibunya saja. Tidak pernah ada cerita yang bias menerangkan siapa dan di mana sebenarnya ayah Adinda.
“Bi, apa benar ayah sudah meninggal ?“
“Mbak Dinda, jangan bertanya pada bibi. Bibi tidak tahu apa-apa.”
“Kenapa semua menyembunyikan ayah ? Sudah sebesar ini aku tidak pernah sekalipun betemu ayah. Aku juga ingin seperti yang lain, mempunyai ayah. Jujurlah bi, aku mohon.”
“Maaf mbak, saya tidak tahu.”
Selama 39 tahun Adinda tidak pernah bertemu ayahnya dan hari ini ia akan mengungkap siapa yahnya. Tahap demi tahap, Adinda mencari barang-barang yang bersangkutan dengan keluarga kecilnya itu. Ia mencarinya di gudang.
Beberapa menit kemudian Adinda menemukan foto yang berlapis penuh debu. Di foto itu ada seorang bayi yang tengah dipeluk seorang pria. Pelukan itu terlihat penuht dengan kasih sayang, tetapi Adinda tidak pernah mendapatkanya. Ia hanya berbisik lirih di dalam hatinya, “andai itu aku”.
Cepat-cepat ia bersihkan dan dengan cekatan tangan lentiknya mencari-cari lagi. Waw, sungguh sulit dipercaya, ia menemukan amplop yang berisi penuh dengan foto pria tadi bersama foto muda ibunya. Kembali ia berbisik, “tak salah lagi, ini ayah.”
Ternyata tidak hanya foto saja, ada beberapa surat pribadi di dalamnya da nada satu surat yang menarik mata untuk dibacanya.
Teruntuk kekasihku tercinta,
Sayang, begitu berat untukku mengatakan ini padamu. Aku teramat sangat menyayangimu tapi aku tidak pernah bisa bersamamu untuk selamanya.
Sungguh sangat ingin aku menjaga anakku ketika malam ia terbangun, aku tak ingin meninggalkanmu dan perbuatanku.
Tapi, orang tuaku tak menyetujui hubungan kita. Maafkan aku, aku harus menninggalkanmu.
Sampai saatnya nanti, aku akan menemuimu untuk mempertanggung jawabkan semua ini.
Love you
Salam cinta Damar
Setelah membaca surat ini, Adinda bertanya-tanya dalam hati. Berulang kali dia berfikir, “siapa itu Damar ? Apakah dia yahku ?” tetapi kenapa setega itu meninggalkan ibu selama ini ?
Tak beberapa lama ketika ia membuka-buka, astaga, ada puisi dari orang yang sama.
Adinda menyisihkan beberapa lembar puisi dan beberapa foto untuk ia tunjukkan pada ibunya.
Ketika Adinda melihat ibunya yang sedang bersantai di teras belakang rumah, langsunglah ia menghampirinya dan mengintrogasinya dengan embel-embel pembukaan andalannya. Setelah itu, langsunglah ia ke titik pembahasannya.
“Apa ini bu ? Siapa Damar dan siapa yang ada di dalam foto ini ?”
“Dari mana kau dapatkan ini ? Gambar ? Foto ?” (memandang gambar dengan penuh haru dan membaca puisinya sampai air mata membasahi pipinya).
Widuri yang aku cintai,
Kita tertawa sampai kita harus menangis
Dan kita ingin malam turun untuk menyaksikan perpisahan kita
Kita adalah yang terbaik, kita menjadi yang terbaik
Hanya engkau dan aku untuk beberapa saat
Kita mengubah impian-impian malam yang pernah kita temukan
Dan kadang-kadang kita meninggalkan yang satu
Sementara tetap memegang yang lain
Jadikan segala sesuatunya yang baik
Bersinar teramat terang untuk beberapa saat
“Ibu, ibu kenapa ? Siapa dia, Bu ? Katakan padaku Bu, aku ingin tahu. Apa itu ayahku atau kekasih lama ibu ?”
“Diamlah ! Ini bukan urusanmu. Pergilah cepat !”
“Ibu ! Kenapa ibu tak pernah jujur padaku ? Berapa lama aku harus menunggu ibu bicara ? Aku rindu ayah !”
“Sampai aku mati. Pergilah !”
Semua sia-sia, tetap saja Adinda tidak bisaa mengetahiu siapa ayahnya dan siapa orang dalam gambar serta puisi itu.
“Cukup sudah, aku takkan mencarimu lagi ayah, tapi aku akan selalu merindukanmu. Andai dalam gambar itu aku dan ayah.”
oleh : Frista Zeuny /XII IPA